Menikah dengan Janda Beranak, Resikonya Tinggi


Sebut saja namanya Andi. Saat ini umurnya 42 tahun. Ia menikah dengan seorang janda beranak 3 yang ditinggal cerai oleh suamimya. Andi menikah dengan janda ini ketika umurnya 35 tahun, dan si janda itu berumur 32 tahun. Mereka berkenalan dalam suatu urusan pekerjaan. Hubungan mereka pun berlanjut sampai ke jenjang pernikahan. Masa pacaran mereka cukup singkat, hanya enam bulan saja. Alasannya karena umurnya sudah diatas kepala tiga, dan belum menikah, sehingga seringkali jadi ledekan keluarganya dan juga sering ditanya orangtua kapan menikah, maka Andi pun akhirnya mengambil keputusan buru-buru menikahi si janda itu. Alasan lainnya, si Andi ini susah dapat jodoh dan susah dapat pacar, sehingga pada saat itu ia pun berpikir mau tunggu apalagi? Maka ia segera menikah dengan si janda itu. Kala itu Andi bangga setengah mati punya istri cantik. Namun karena janda beranak tiga, ia pun menutup rapat-rapat rahasia itu kepada kedua orangtuanya, keluarganya, dan teman-temannya, karena malu. Semua keluarga dan orang tua Andi pun memuji Andi akhirnya bisa dapat istri yang cantik. Mereka tak tahu bahwa istrinya itu janda beranak tiga. Dari pernikahan mereka, Andi memiliki satu orang anak. Dua orang anak tirinya tinggal bersama mereka. Sedangkan anak si janda yang satumya tinggal bersama mantan suamimya. Semasa pacaran dulu, si janda ini mengaku anaknya cuma dua, setelah menikah baru Andi tahu bahwa ternyata anak si janda itu sudah tiga. Hubungan perkawinan si Andi ini cuma baik-baik saja selama setahun pertama. Tahun berikutnya tiap hari bertengkar, tiada hari tanpa ribut, masalah kecil dan sepele bisa jadi besar, karena si janda itu ternyata sifatnya jelek, keras kepala, dan maunya menang sendiri. Padahal usia perkawinan mereka saat ini sudah hampir delapan tahun. Bayangkan selama 7 tahun hidup dengan bertengkar. Bukan hanya itu saja, anak tirinya yang mulai beranjak temaja pun kini bertingkah sama seperti ibunya. Seringkali Andi dibentak-bentak, dimarahin, dan diomel-omelin sama anak tirinya itu. Yang lebih parah lagi dua tahun terakhir ini, si janda itu sudah tak mau lagi berhubungan badan dengan Andi. Tidurnya pun pisah, karena si janda itu tak mau lagi tidur bareng sama Andi. Andi dibilang badannya bau, bekas sepreinya Andi pun tiap hari disuruh cuci sama pembantunya karena katanya jijik. Kalau ada keluarga yang datang menginap, Andi terpaksa tidur dilantai karena kamarnya itu buat tidur kedua anak tirinya. Namun anak tirinya minta sepreinya diganti karena jijik dengan bekas sepreinya Andi, akibat contoh tak baik yang seringkali dipertontonkan ibunya didepan mereka ketika bertengkar dengan Andi. Tiap hari istrinya Andi itu berteriak minta cerai, dan bilang menyesal setengah mati sudah kawin dengan Andi. Istrinya pun minta Andi pergi dari rumah itu karena jijik lihat mukanya. Padahal mereka masih kontrak di rumahnya orang. Bukan hanya itu saja, istrinya itu bahkan sudah tak mau masak lagi, sehingga Andi tiap hari pulang kerja terpaksa Andi harus cari makan di warteg. Kini Andi pusing tujuh keliling. Mau cerai, ia tak tega sama anak kandungnya. Enggak cerai, hidup bertengkar terus tiap hari. Andi menunjukkan BBM-nya kepada ku makian-makian istrinya itu. Kasihan memang nasibnya. Sambil cerita, tatapan matanya kosong dan berkaca-kaca. Hikmah yang dipetik dari jalan hidup si Andi ini, yaitu: 1. Jangan pernah nikah hanya karena terpaksa, karena alasan umur, karena susah jodoh, ataupun susah dapat pacar. 2. Masa pacaran jangan terlalu singkat sebelum menuju jenjang pernikahan. Kenali betul karakter calon pasangan Anda, dan harus tahu betul latar belakang kehidupannya dan masa lalunya seperti apa. 3. Kalau sudah terlanjur nasib Anda seperti si Andi ini, harus punya ketegasan dan harga diri. Kalau memang harus cerai, dan kondisinya sudah tak dapat dipertahankan lagi, ya sudah mau bilang apalagi, sebaiknya berpisah daripada hidup Anda sengsara seumur hidup. Ambil keputusan tegas segera. 4. Bicara empat mata, maunya apa. Kalau memang niatannya benar-benar mau cerai, bukan hanya gertak sambal doang, ya sudah cerai saja. Masalah hak asuh anak, bisa diperjuangkan di Pengadilan. Hati-hati kalau menikah sama janda yang ditinggal cerai oleh suaminya, karena suatu saat nanti masalah yang sama dengan mantan suaminya akan menimpa Anda, seperti yang dialami si Andi ini. Pernikahan itu bukan hanya satu dua tahun saja, akan tetapi seumur hidup. Menyesal kemudian tak ada artinya. Paham?

Sumber : http://www.kompasiana.com

0 Response to "Menikah dengan Janda Beranak, Resikonya Tinggi"

Post a Comment