Meunasah Aceh Denmark Di Mata Munawar Liza Zainal


Masyarakat Aceh di Denmark mempunyai kebiasaan yang sungguh mengagumkan, selain menjaga hubungan silaturrahmi dengan sesama juga menjaga hubungan batin dengan Aceh. Terdepan dulu dalam membela perjuangan, saat ini juga terdepan dalam menjaga adat Aceh. Tidak ada anak yang tidak bisa berbahasa Aceh, berbeda dengan anak-anak zaman sekarang di Banda Aceh, Lhokseumawe atau Langsa.

Setiap tahun mereka mengundang tengku dari Aceh untuk datang, kemudian memimpin pengajian, majelis zikir atau kegiatan keagamaan lainnya. Beberapa tengku pernah diundang ke Denmark, seperti teungku Yusri Puteh, teungku Musliadi dan yang terakhir ini teungku Abdurrazak atau teungku Akhi, dari Langsa.

Hari Jumat kemarin (29/7/2016), masyarakat shalat Jumat di meunasah Aceh di Aars, sesudahnya acara zikir mendoakan kebaikan untuk seluruh rakyat Aceh. Shalawat badar, Juga samadiah kepada alm. Abuya Djamaluddin Waly dan teungku Mukhtar Lutfi bin teungku Abdul Wahab.

Setelah shalat, dilanjutkan acara perpisahan dengan tengku Abdul Razak, sebab akan kembali ke Aceh setelah dua bulan di sini dan sempat berkeliling berdakwah dan memimpin zikir sampai ke Stavanger, Norwegia.

Selepas acara kami bercengkerama, beberapa kawan meminta rokok djisamsoe atau sampoerna mild yang biasanya saya bawa. Karena tidak bawa rokok sama sekali, saya jawab, “hana ulon ba, rukok nyan racon, desya lon, lon bi racon keu rakan-rakan”, saya tidak bawa, tidak mau saya berikan racun yang berbahaya untuk rakan-rakan. Mereka semua tertawa.

Saat cerita-cerita, datang bang Tarmizi, atau kami panggil bang Midi. Dandanannya cukup nyentrik. Kunjungan saya dua tahun lalu masih pakai topi cowboy, kali ini dengan topi haji. Karena sudah pensiun, saat ini punya profesi tambahan, tukang cukur. Ketika melihat rambut saya yang kurang rapi, kumis dan janggot yang berantakan, langsung dia beraksi. Diambil kursi, saya diperintah untuk duduk, langsung dipasangkan kain persis seperti di salon-salon, tangannya membuka tas yang mirip tas kosmetik, rupanya dalamnya ada gunting, ‘ragöm’, mesin cukur, sisir, bahkan ada balsem. Mulailah bang Midi kerja dengan sangat cekatan, mencukur rambut, kumis dan jenggot, plus urut kepala dan bahu yang sangat luar biasa, tidak kalah dengan urutan tukang cukur di Peunayong atau di Ulee Kareng.

Setelah itu, makan malam bersama-sama dengan menu ikan mackerel panggang dengan kecap, hasil pancingan sendiri dan ikan payis, pepes pakai aluminium foil pengganti daun pisang.

Demikian kegiatan di hari mulia, hari Jumat.

0 Response to "Meunasah Aceh Denmark Di Mata Munawar Liza Zainal"

Post a Comment