
Jumlah 16 mayam bukanlah keharusan, tergantung kesepakatan dan status sosial keluarga mempelai. Untuk keluarga relatif sederhana, mahar berkisar 7 hingga 12 mayam emas.
Setiap daerah di Aceh mempunyai patokan sendiri dalam jumlah mahar. Tetap berpegang kepada adat.
Sejumlah anak muda yang menikah dengan dara Pidie mengatakan mahar di kabupaten ini tertinggi dibandingkan daerah lain di Aceh.
“Itu sudah menjadi rahasia umum, ka dithèe ban saboh (sudah diketahui seluruh) Aceh. Mahar di Pidie paling mahal, ada yang 30 mayam emas, 50 mayam, dan 70 mayam,” kata Reja, warga Aceh Utara yang menikahi gadis asal Pidie.
Pendapat serupa dikatakan Taufik, juga warga Aceh Utara yang kini tinggal di Lhokseumawe. “Bukan hanya dengan aneuek dara Pidie yang tinggal di Pidie, aneuek dara asal Pidie yang tinggal di luar Pidie kalau kita lamar, mahar yang diminta orang tuanya juga cukup mahal,” katanya.
Meski begitu, Reja dan Taufik menilai wajar tingginya mahar di Pidie sebab lintô barô memperoleh rumah dari mertuanya. “Kalaupun tidak dikasih rumah baru, minimal dibolehkan tinggal bersama mertua, malah diharuskan tinggal bersama,” kata Reja.
Ketua Majelis Adat Aceh Kecamatan Indra Jaya, Pidie, Abdul Hadi Z., menolak anggapan yang menyebutkan mahar di daerah itu paling mahal.
“Sebenarnya tidak mahal mahar di Pidie, sama seperti hukôm peura-é (pembagian harta warisan). Bagi laki-laki dapat dua bagian, perempuan satu bagian,” ujar Abdul Hadi.
Artinya, kata dia, adat di Pidie lintô barô atau mempelai lelaki diberikan rumah. “Kalau tidak mampu dikasih rumah baru, diberi kamar untuk tempat tinggal. Jadi, jangan dilihat adat itu secara sepotong-sepotong,” ujarnya.
Abdul Hadi mencontohkan, di Garot, Pidie, ada orang tua memiliki empat anak perempuan. Keempat anak perempuan yang telah menikah itu masing-masing diberikan satu kamar untuk tempat tinggal bersama suami.
“Ada juga yang dikasih tanah untuk pertapakan rumah sebagai tempat tinggal anak perempuannya yang telah menikah. Kalau orang kaya malah dikasih tanah sekaligus dibangun rumah baru,” kata Abdul Hadi.

Di Kecamatan Meukek, Aceh Selatan, lain lagi. Mahar yang dipatok rendah, tetapi isi kamar tinggi. Hal ini diungkapkan seorang pemuda asal Aceh Besar, Hendra Saputra, 30 tahun, yang berencana menikah dengan seorang gadis asal Meukek.
"Asoe kama (isi kamar)-nya sampai Rp20 juta. Mayamnya sekitar lima," ujar Hendra. Ia menilai adat berupa "isi kamar" itu tentu memberatkan. "Tapi itu terpulang ke pribadi masing-masing, ada yang mungkin memberatkan, ada juga yang tidak," ujarnya.
Di Aceh Besar, kata Hendra, biasanya isi kamar sudah termasuk ke dalam mahar. "Kalau mahar 15 misalnya, itu di Aceh Rayek sudah termasuk isi kamar," ujar Hendra.
Di Bireuen lain lagi. Standar mahar sesuai adat di kabupaten ini 16 mayam emas. Namun, dalam pelaksanaan ada yang di bawah 16 mayam atau jauh lebih tinggi. Standar ini untuk pernikahan perjaka dan gadis.
“Itu belum termasuk uang hangus yang bervariasi dari Rp5 juta hingga Rp30 juta," ujar Muzakkir A. Gani atau Tukin, tokoh masyarakat Kecamatan Juli, Sabtu tiga pekan lalu.
Dengan uang hangus yang disepakati, terkadang jumlah mahar kalah harga. Uang hangus dari mempelai pria, kata Tukin, diserahkan kepada keluarga mempelai wanita untuk membeli isi kamar, selain untuk biaya resepsi.
Jumlah 16 mayam bukanlah keharusan, tergantung kesepakatan dan status sosial keluarga mempelai. Untuk keluarga relatif sederhana, kata Tukin, mahar berkisar 7 hingga 12 mayam emas. Lalu ditambah asoe kama yang juga disepakati sesuai kemampuan.
“Tetapi untuk keluarga yang relatif punya kemampuan dari segi materi atau status sosial tinggi, mahar disepakati hingga 40 mayam plus uang hangus hingga Rp30 juta. Malah pernah ada satu kali mahar seorang wanita di Bireuen sampai 100 mayam mas, ini rekor tertinggi, saya masih ingat itu, tidak usah saya sebut orangnya,"
0 Response to "Perbedaan jumlah mahar beberapa daerah di Aceh"
Post a Comment