Inilah Model Gleung dalam keseharian Masyarakat Aceh

Gleung Gaki Koleksi Masykur Syafruddin
Perhiasan adalah salah satu kebutuhan yang di butuhkan oleh kaum hawa baik dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam  rangkaian adat perkawinan dan kegiatan lainnya.  Dalam keseharian masyarakat Aceh  terdapat bermacam ragam perhiasan yang di gunakan mulai dari perhiasan atas, bawah dan bawah.  Perhiasan tersebut seperti  yang dikenakan oleh pengantin perempuan bermacam-macam, yaitu: patam dhoe, subang pinto aceh, subang bungong mata uroe, taloe keutab lhee lapeh, keureusang, peuniti, simplah, taloe kiieng, ikay, gleung joroe, gleueng  pucok reubong, euncien pinto aceh, dan gelang kaki. 

Gleung joroe adalah sebuah Gelang tangan yang terbuat dari emas , Suasa, Perak , tembaga dan Kuningan dan permata. Gelang ini terdiri dari lima rantai yang saling terkait dan masing-masing rantai dihubungkan pada dua lempengan emas. Pada bagian pinggir sebelah depan dihiasi dengan ukiran motif pucuk rebung. Kedua bagian pangkal penghubung diberi ukiran suluran dan disematkan masing-masing sisi lima butir permata. Sedangkan, bagian badan diberi motif bungong kupula (bunga tanjung) yang bersemat sebutir permata.

Gleueng jaroe pucok reubong adalah sepasang gelang tangan yang terbuat dari perak sepuh. Gelang ini terbagi atas dua bagian yang dihubungkan dengan sistem engsel. Bagian atas berupa ukiran piligram dengan motif tumpal dan kaligrafi (bungong, kalimah) bertuliskan “Allah” yang melingkari sekeliling gelang tersebut. Gelang ini dipakai pada kedua belah tangan. Motif bungong kalimah ini hanya terdapat pada perhiasan-perhiasan yang mewah. Lihat Koleksi Harun keuchiek Leumiek.

Gleueng gaki (gelang kaki) adalah satu-satunya perhiasan yang dikenakan pada kaki, kaki kiri dan kanan. Gelang ini terbuat dari tembaga berlapiskan perak sepuh. Pada kedua bagian ujungnya agak pipih dan saling bertindih. Gelang ini dihiasi dengan motif pilin tali dengan teknik cane intan (menggunakan jalur-jalur yang mengkilap). T.J. Veltman, menyebutkan gelang ini dengan nama “gleueng meusagoe” (gelang bersegi).

Berikut beberapa foto dari koleksi Masykur Syafruddin 

 Gambar 01 Gelang Kaki pada Upacacara Perkawinan


No Inv. 97300/ HC-01/PMMS/2016
Asal Koleksi  : Abu Bakar
Gampong       : Cot Peutano, Kuta Baro, Aceh Besar 2015
Material         : Kuningan
Berat              :
Koleksi          : Luengputu Manuskrip Melayuaceh 
Dokumentasi : Ayi AL Yusri
 Gambar 02 Gelang Kaki pada Upacacara Perkawinan
No Inv. 97300/ HC-01/PMMS/2016
Asal Koleksi  : Abu Bakar
Gampong       : Cot Peutano, Kuta Baro, Aceh Besar 2015
Material         : Kuingan Sepuh perak
Berat              :
Koleksi          : Luengputu Manuskrip Melayuaceh 
Dokumentasi : Ayi AL Yusri 
Gambar 03 Gelang Kaki Saat Upacara Pernikahan 
No Inv. 97300/ HC-01/PMMS/2016
Asal Koleksi  : Abu Bakar
Gampong       : Cot Peutano, Kuta Baro, Aceh Besar 2015
Material         : Kuningan Sepuh perak
Berat              :
Koleksi          : Luengputu Manuskrip Melayuaceh
Dokumentasi : Ayi AL Yusri 
Gambar 04 Gelang Kaki Saat Upacara Pernikahan 

No Inv. 97300/ HC-01/PMMS/2016
Asal Koleksi  : Abu Bakar
Gampong       : Cot Peutano, Kuta Baro, Aceh Besar 2015
Material         : Kuningan Sepuh peral
Berat              :
Koleksi          : Luengputu Manuskrip Melayuaceh
Dokumentasi : Ayi AL Yusri
Gambar 05 Gelang Tangan  dan Lonceng
No Inv. 97301/ HC-02/PMMS/2016
Asal Koleksi  : Abu Bakar
Gampong       : Cot Peutano, Kuta Baro, Aceh Besar 2015
Material         : Perunggu
Berat              :
Koleksi          : Luengputu Manuskrip Melayuaceh
Dokumentasi : Ayi AL Yusri
Gambar 03 Gelang Kaki 

No Inv. 97302/ HC-03/PMMS/2016
Asal Koleksi  : Abu Bakar
Gampong       : Cot Peutano, Kuta Baro, Aceh Besar 2015
Material         : Perunggu
Berat              :
Koleksi          : Luengputu Manuskrip Melayuaceh
Dokumentasi : Ayi AL Yusri

0 Response to "Inilah Model Gleung dalam keseharian Masyarakat Aceh"

Post a Comment